
Pada tanggal 18 Februari 2020, saya mendapat email undangan untuk mengikuti Pengayaan Bahasa (PB) beserta 26 orang orang lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti kelas IELTS di Pusat Bahasa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Tanggal 29 Pebruari 2020, saya berangkat dari Lombok ke Jakarta dengan pesawat Garuda yang sebelumnya telah saya booking melalui email pemesanan tiket keberangkatan PB. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar dua jam dari Bandara International Lombok ke Bandara Soekarno-Hatta. Setiba di Jakarta, saya bersama beberapa teman yang sebelumnya telah membuat janji bertemu di bandara akhirnya berangkat menggunakan taksi online ke kost yang sebelumnya telah di-booking-kan koordinator kelompok PB kami, Mas Musa.
Ini adalah pertama kalinya saya berkunjung ke Jakarta, terutama Kota Tangerang Selatan. Kesan pertama tentu saja sangat bersyukur karena lokasi kost kami yang sangat dekat dengan pesantren Darussunnah. Jadi serasa berada di rumah sendiri melihat santri dan mahasiswa lalu lalang di depan kost kami.
Tangerang Selatan, terutama Ciputat secara umum hampir mirip dengan Mataram, perumahan yang padat dan gedung-gedung bertingkat, jalan dan gang yang penuh sesak dengan pengendara dan pejalan kaki, hingga trotoar yang penuh dengan pedagang kaki lima serta suara khas musik ondel-ondel yang lalu-lalang.
Jarak kost ke kampus hanya 200 meter, jadi biasanya kami berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Pusat bahasa dimana kami mengikuti kelas IELTS bertempat di Kampus II UIN, dekat dengan gedung paska sarjana.
Pada tanggal 2 Maret 2020, kami mengikuti acara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh peserta PB, baik IELTS maupun TOEFL yang dipandu oleh Direktur Pusat Bahasa UIN Jakarta, Ibu Siti Nurul Azkiyah, Ph.D dan dihadiri oleh beberapa tutor kami.
Akhirnya kami memulai pembelajaran tepat di tanggal 3 Maret 2020 dengan mengikuti rangkaian IELTS pre-test untuk menguji kemampuan dasar kami. Sejujurnya, inilah kali pertama saya berhadapan dengan test IELTS.
Keesokan harinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari materi dasar bahasa Inggris yang modulnya telah disiapkan Pusat Bahasa. Kami mengikuti pembelajaran selama 6 jam yang terbagi ke dalam 3 sesi. Kelas dimulai jam 8 pagi dan berakhir jam 3.30 sore.
Jumlah kami yang 27 orang sebenarnya terlalu besar untuk kelas IELTS, karena umumnya kelas IELTS terdiri dari 10-15 orang, namun pihak PB UIN mengupayakan pembelajaran seefektif mungkin untuk kami. Dosen-dosen yang mengajar kami pun sangat qualified yang merupakan alumni kampus-kampus ternama di dalam dan luar negeri. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya menjadi bagian dari program ini. Karena bagaimanapun juga, sebagai seorang yang berlatarbelakang guru dari daerah 3T, saya banyak sekali mendapat insight baru bagaimana seharusnya mengajar yang baik dan membangun kualitas belajar yang tinggi. Saya merasa ini adalah pembelajaran bahasa Inggris terbaik yang pernah saya ikuti meski saya telah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun lamanya karena memang latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya banyak sekali mengejar ketertinggalan saya selama ini. Karena paska lulus dari pendidikan S1, saya hampir tidak punya waktu untuk meningkatan kualitas keilmuan dan keterampilan saya karena sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga. Jadi, saya benar-benar merasa sangat banyak belajar meski studi master saya belum dimulai.
Namun sangat disayangkan, pembelajaran di Pusat Bahasa UIN hanya berlangsung dua minggu karena terjadinya pandemi. Kami terpaksa melanjutkan pembelajaran secara online dari kost masing-masing. Sebulan kemudian akhirnya kami disarankan untuk pulang ke rumah masing-masing dikarenakan tidak bisa dipastikan sampai kapan pembelajaran online ini dilaksanakan berhubung pandemi yang semakin hari semakin memburuk.
Terlepas dari betapa menakutkannya pandemi ini, saya merasa mendapat hikmah yang luar biasa, karena bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Tentu yang terberat bagi saya adalah berpisah dengan suami dan kedua anak saya selama PB. Namun pandemi ini menjadikan saya bisa tetap bersama mereka sambil mengikuti PB. Sungguh karunia besar bagi saya.
Maka jadilah kami menghabiskan masa PB kami secara online. Di awal-awal banyak sekali adaptasi yang kami lakukan terkait menentukan aplikasi pembelajaran mana yang susuai dengan kebutuhan kami. Akhirnya kami memilih menggunakan aplikasi Google Classroom, Zoom, Google Meet dan Whats Up untuk memfasilitasi pembelajaran online kami. Tentu saja yang menjadi kendala terbesar adalah koneksi internet, karena tak bisa bisa dipungkiri, masalah ini sering mengganggu keefektifan pembelajaran kami.
Mencapai target skor IELTS yang kami harapkan ternyata tak semudah yang kami bayangkan. Kemampuan rata-rata awal kami berkisar di band 3 sampai 5, dan untuk meningkatkannya ke minimal band 6.5 ternyata memang sesulit itu. Terutama untuk skill produktif seperti speaking dan writing. Meningkatkan band untuk kedua skill di atas tidak semudah meningkatkan band reading dan listening.
Tak cukup hanya mengikuti kelas formal di kelas selama 6 jam, kami pun harus berupaya mengalokasikan waktu untuk belajar mandiri, karena itu sangat menentukan pencapaian belajar kami. Tidak sedikit dari kami, malamnya harus latihan speaking bersama teman sekelas untuk daily practice, dan juga harus banyak membaca dari berbagai sumber untuk meningkatkan kualitas writing kami.
Setiap dua minggu sekali kami mendapat progress test yang tujuannya untuk mengukur sampai sejauh mana peningkatan kemampuan kami. Progress test di design semirip mungkin dengan real test untuk membangun kesiapan kami untuk mengambil test akhir nantinya. Progress test dimulai dengan test speaking dan dilanjutkan dengan test listening, reading dan writing. Tes ini cukup melelahkan bagi saya, karena semua test dikerjakan melalui komputer dengan waktu yang sangat singkat dengan jumlah soal yang cukup banyak. Namun tentu saja kami bahagia saat melihat setiap minggu kami mendapatkan progress yang relatif baik.
Saya bahagia sekali karena UIN Jakarta memiliki pengajar-pengajar dengan keunikannya masing-masing, terutama yang paling berkesan tentu saja pengajar untuk skill produktif karena intensitas waktu kami mengikuti kelas ini lebih banyak. Setiap skill speaking dan writing diampu oleh dua pengajar yang berbeda, dan menurut saya sangat saling melengkapi. Ms. Yenny yang lemah lembut dan banyak memotivasi kami diimbangi dengan Mr. Shohib yang tegas dan detail mengoreksi kelemahan-kelemahan writing kami. Kemudian Mr. Didin yang khas dengan kalimat-kalimatnya yang menguatkan kami diimbangi dengan Mr. Rosyid yang selalu pandai membuat kami merasa tak memiliki kemampuan apapun dan harus lebih banyak belajar lagi. Ditambah kehadiran dosen selembut Ms. Nurul dan Mr. Kustiwan, dan sabarnya Ms. Atik dan Mr. Dadan. Dosen yang sudah seperti sahabat sendiri seperti Mr. Haris dan Mr. Agus dan juga dosen senior yang penuh wibawa seperti Mr. Atiq. Tak lupa yang selalu sabar menampung keluh-kesah kami, kritik dan saran untuk kebaikan bersama, yang sudah seperti emak kami, Ms. Eni. Akhirnya UIN Jakarta di mata saya seperti paket komplit yang sangat banyak membantu saya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya. Terima kasih UIN Jakarta.
Oops, hari ini kami melaksanakan acara penutupan PB secara online. Oh finally, doakan hasil real test saya baik ya guys. Tentang real test saya akan ceritakan dipost selanjutnya.
Oh yaa, berikut profil singkat teman-teman seperjuangan di kelas IELTS. Mereka adalah orang-orang hebat perwakilan dari berbagai daerah dan saya bangga sekali berada dalam satu kelas bersama mereka.
| No | Nama | Asal | Kampus Tujuan | Jurusan |
| 1 | Agustiawan | Padang, Sumatera Barat | Groningen University | Energy and Environmental Science |
| 2 | Andi Reski Indah Kusuma | Polewali Mandar, Sulawesi Barat | University of Edinburgh | Infectious disease and one health |
| 3 | Aldino Ikhwanul Mustaqim | Manokwari, Papua Barat | Wageningen University and Research | Animal Science |
| 4 | Ansgarius Wahana Mau | NTT | Australian National University | Public Policy |
| 5 | Arbai Kartini Nurhasanah | Lombok Timur, NTB | University of Adelaide | Biotechnology (Biomedical) |
| 6 | Arif Sujagat | Bima, NTB | Utrecht University | Epidemiology of Infectious Diseases |
| 7 | Ayu Maghfurroh | Nganjuk-Jatim | University of Auckland | Education Practice |
| 8 | Durrotun Nashihin | Kediri, Jatim | Wageningen University and Research | Biosystems Engineering |
| 9 | Dwi Tampubolon | Timika, Papua | Edinburgh University | Health Policy |
| 10 | Flora Kambuaya | Papua Barat | Adelaide University | Master of Planning (Urban Design) |
| 11 | Isak Pansiang | Morowali Utara | Uppsala University | Industrial Management and Innovation |
| 12 | Maria Susanty | Atambua-NTT | Univesity of Sheffield | Human Resource Management |
| 13 | Marjiatul Magfiroh | Pasuruan, Jawa Timur | Al-Qorowiyyin University, Maroko | Islamic Studies |
| 14 | Muhammad Sibawaihi | Lombok Utara, NTB | Australian National University | Applied Anthropology and Participatory Development |
| 15 | Ni Putu Amelia Artika | Sumbawa, NTB | Monash University | Educational Leadership |
| 16 | Raden Khaerul Peratama | Lombok Utara, NTB | University of New South Wales | Master of Commerce |
| 17 | Ri Ayat Ainul Bashirah | Bima, NTB | University of Melbourne | Master of Education |
| 18 | Ria Kusmumawati | Lombok Barat, NTB | Monash University | Public Policy |
| 19 | Rina Hayati Permata Puspitasari | Lombok Timur, NTB | Cornell University, USA | Entomology |
| 20 | Rival Irvan Boelan | NTT | University of Nottingham | Public Administration |
| 21 | Roza Rezeki Zulwita | Aceh Singkil | University of New South Wales | Built Environtment and Sustainable Development |
| 22 | Siti Syariah | Lombok Utara, NTB | The University of Queensland | Applied Linguistics |
| 23 | Sri Rizki | Lombok Tengah, NTB | University of Melbourne | Master of Education |
| 24 | Sulhiyah | Lombok Barat, NTB | University of Melbourne | Master of Education |
| 25 | Wahyuni Shalatan Fitri | Sintang, Kalimantan Barat | University of College London | Pharmaceutical Formulation and Entrepreneurship |
| 26 | Miranda Dedy Keiku | Sumba Barat, NTT | University of Western Australia | Biomedical science |
| 27 | Marince Tunardjo | Kupang, NTT | University of Reading, UK | Agricultural & Food Economics |
====================
Lombok Utara, 18 September 2020.