
Pagi selalu datang tak menyenangkan. Ia membangunkanku terlalu cepat. Setidaknya ia biarkan saja aku tertidur lebih lama melanjutkan mimpi-mimpiku yang indah. Aku tahu, aku tak sedang bermimpi hadir di sebuah istana menjadi putri yang diperebutkan pangeran-pangeran tampan layaknya drama korea yang pernah ku tonton. Namun mimpi selalu lebih indah dari kenyataan hidupku.
Ah,sudahlah. Aku harus bangun meski berat. Seragam putih abu terpampang tepat di depanku saat pertama kubuka mataku. Melihatnya saja sudah membuatku malas menarik diriku untuk segara bangkit dari tempat tidur. Namun apa dayaku, kewajiban sekolah yang sudah dibebankan padaku bahkan sejak aku belum bisa membersihkan ingusku sendiri, tak bisa kuelakkan.
***
Seperti biasa aku tak pernah datang terlambat. Kelas masih sepi saat ku letakkan tas sekolahku di atas meja. Lantai kelas yang kotor, dengan debu dan kertas yang berserakan di bawah meja dan kursi tak ku indahkan karena memang bukan jadwal piketku membersihkan kelas.
Pagi ini aku harus menyiapkan lagi presentasi Bahasa Inggrisku. Aku sudah mati-matian latihan di rumah, namun tetap saja aku merasa persiapanku belum sempurna. Mulutku komat-kamit mengulang-ulang kalimat demi kalimat tentang Gunung Rinjani yang sudah ku tulis sebelumnya di buku catatan bahasa inggris ku. Menulisnya cukup melihat di halaman google seperti yang dilakukan teman-teman yang lain dan kemudian menghafalkannya dengan pronuncation yang benar. Begitulah perintah Pak Kasman, guru bahasa Inggris kami.
Sudah pukul 7.20 dan satu persatu teman sekelasku mulai berdatangan. Sebentar lagi Pak Kasman akan segera masuk kelas setelah bel masuk berbunyi. Namun aku belum juga merasa puas dengan hafalanku. Aku mulai mengulang-ulang kembali. Tampak teman-teman sekelasku juga mulai mengeluarkan catatan masing-masing dan mulai menghafal.
Bel masuk berbunyi. Kulihat teman-temanku mulai sibuk mengatur posisi duduknya, Pak Kasman telah berdiri di depan pintu kelas. Sebagian siswa yang belum masuk kelas terlihat kikuk minta izin masuk sembari menyalaminya.
Pak Kasman meletakkan setumpuk buku yang dibawanya di atas meja. Aku tak tahu pasti buku apa saja yang dibawanya, yang jelas diantaranya pasti ada buku daftar hadir yang mulai dibukanya pelan-pelan dan mulai memanggil nama kami satu persatu.
Presentasi telah dimulai, kulihat Trisna, sang bintang kelas diberi tepuk tangan yang meriah saat menyelesaikan presentasinya. Pak Kasman terlihat tersenyum bangga. Ia pasti merasa telah berhasil menjadi guru yang baik karena telah mencetak siswa sehebat Trisna. Kini giliranku. Namaku belum dipanggil, aku sudah gemetaran. Aku bisa mendengar irama jantungku yang mulai berdetak tak karuan. Aku sudah berdiri tepat di depan kelas. Kulingkarkan lenganku di belakang punggung untuk menyembunyikan jari jemariku yang bergetar hebat. Pandanganku sebentar-sebentar kuarahkan ke lantai tempat kakiku berpijak karena tak sanggup menatap wajah teman-temanku yang menatap tepat di wajahku. Kening dan hidungku mulai berembun meski hari masih pagi. Pak Kasman, tentu saja menatap tajam ke arahku. Ia sudah tak sabar menunggu kalimat yang keluar dari mulutku. Oh, aku ingin lari saja dari kelas ini.
Aku memulai kalimat pertama dan Pak kasman tak sabar mengoreksi pengucapanku. Tak sampai akhir paragraf, entah sudah berapa kali ia memperbaiki kalimatku. Kulihat wajahnya mulai kehilangan kesabaran di kalimat terakhirku. Ia mulai meninggikan suaranya karena kesal.
“Andini, latihan lagi membaca teks bahasa Inggris di rumah. Kau sudah duduk di bangku SMA, seharusnya malu dengan bahasa Inggrismu.” Ujar Pak Kasman menceramahiku.
Teman-teman menatapku kasihan. Ini bukan pertama kalinya guru memarahiku karena aku tak bisa menyelesaikan tugas sesuai harapan.
***
Aku, Andini. Si anak SMA yang sungguh teramat sangat biasa. Aku tak sehebat Trisna yang baru saja mendapatkan piala karena memenangkan juara lomba Pidato Bahasa Inggris tingkat provinsi. Aku juga bukan Mega yang dipuji-puji guru karena berhasil mewakili sekolah untuk Olimpiade Matematika ke tingkat nasional. Aku juga bukan Fahri sang juara basket, atau Cici yang selalu diikutsertakan dalam lomba modeling karena kecantikannya.
Di kelas, aku hanya seperti object pelengkap layaknya foto presiden yang digantung di dinding kelas. Tak ada yang memperhatikan kehadiranku. Aku terlampau biasa. Tak ada keistimewaan yang membuatku menjadi pusat perhatian. Bahkan jika hari ini aku tak masuk sekolah, dan Pak Kasman lupa membawa buku absen, aku tahu ia tak akan menyadari ketidakhadiranku. Bahkan teman-teman sekelas pun tak akan ada yang mengirimiku pesan untuk menanyakan alasan ketidakhadiranku. Berbeda jika yang tak hadir adalah Trisna, Pak Kasman akan segera mengetahui ketidakhadirannya karena bangku yang diduduki Trisna yang pandangannya sering tertuju kesana terlihat kosong, dan tak ada yang akan aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia lontarkan saat memulai pembelajaran.
Aku bosan. Itu kalimat yang yang sering kali hadir di benakku saat waktu sekolah tiba. Namun tentu saja aku tak boleh bosan, aku harus menjadi anak baik yang menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Aku pun tak ada niatan untuk berhenti sekolah. Hanya saja sekolah sungguh tak menarik bagiku. Sekolah telah menjadi tempat yang benar-benar tak kurindukan.
Hari ini aku putuskan tak sekolah saja. Bukan karena aku sakit atau bepergian seperti alasan ketidakhadiran pada setiap surat izin yang sampai ke meja guru. Aku hanya ingin istirahat dari kebosananku. Aku hanya ingin bermalas-malasan di atas tempat tidurku menikmati waktu tanpa sekolah.
Aku tahu, meski hari ini Pak kasman masuk kelas dan memanggil namaku saat ia membuka buku absen, ia takkan peduli dengan ketidakhadiranku. Ia hanya perlu menuliskan simbol “a” pada kolom absen yang menandakan hari ini aku tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Guru BK yang biasa mengurus kehadiran siswa pun tak akan memanggil ku ke ruangannya hanya karena ada satu simbol “a” pada catatan kehadiranku.
Oh hari ini sungguh luar biasa. Aku tak perlu berada di dalam kelas, duduk berpura-pura memperhatikan penjelasan guru yang sebenarnya sedikitpun tak menarik minatku. Aku tak perlu bosan menunggu bel pulang sekolah karena rasa kantukku yang semakin menjadi-jadi saat mendengar teori Fisika yang benar-benar tak kumengerti.
Hari ini aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Ku ambil novel setebal 533 halaman yang sampulnya sudah sangat lusuh karena begitu sering kubaca berulang-ulang. Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, novel pertamaku dan satu-satunya yang kubeli di toko buku di kota Mataram saat perpisahan kelulusan SMP. Aku sangat suka cara Andrea Hirata menggambarkan Kota Belitong dan orang-orangnya. Ia pandai sekali memainkan kata-kata menjadi barisan kalimat yang sangat menarik untuk dibaca. Meski novel ini settingnya adalah sekolah, aku tak membenci kisahnya seperti aku membenci kisah sekolahku karena keduanya mengandung kisah yang sangat kontras.
Aku sangat ingin membaca novel Andrea Hirata yang lain yang konon katanya selalu menjadi best seller. Namun tentu saja orang tuaku takkan mengizinkanku menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli novel yang menurut meraka tak berharga. Ibu dan ayahku hanya pedagang kecil di pasar. Aku tahu bagaimana kerasnya mereka mencari nafkah untuk membiayai sekolahku dan adik-adikku. Aku tahu, akupun tak boleh sembarangan meminta uang hanya untuk memenuhi hobi membacaku yang sepertinya tak akan ada gunanya untuk masa depanku. Jadilah hanya novel usang ini setia memenuhi hasrat membacaku.
Perpustakaan sekolah memang memiliki banyak buku. Namun tak banyak menyediakan novel-novel atau bacaan kontemporer atau kekinian seperti bahasa yang kudengar dari teman-temanku. Betul, novel kekinian yang seharusnya diperbanyak untuk menarik pengunjung perpustakaan sekolah. Rak buku yang berjejer hanya dipenuhi buku-buku pelajaran serta buku-buku pendukung pembelajaran lainnya, seperti kamus, ensiklopedia dan sejenisnya. Andai saja perpustakaan dipenuhi novel-novel kesukaanku, aku pasti akan betah berlama-lama di sana dan bisa menjadi alasan yang bisa membuatku bersemangat ke sekolah.
***
Pagi ini, seperti biasa kupaksakan lagi diriku memakai seragam putih abuku. Aku sengaja datang lebih siang, karena aku bosan selalu menjadi yang pertama hadir di dalam kelas. Aku sampai di sekolah 5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Pagi ini kulihat ada pemandangan yang berbeda di dalam kelas. Teman-temanku masing-masing terlihat memegang kertas yang entah apa isinya, Mirna teman sebangkuku menyodorkan milikku. Ternyata isinya adalah hasil tes IQ kami seminggu yang lalu. Guru BK dan sebuah organisasi di luar sekolah membagikan kami kertas berisi pertanyaan yang sangat banyak dan beragam. Namun tak satupun pertanyaannya yang menyangkut grammar atau teori Fisika. Semua tesnya berhasil kujawab tanpa harus membuka buku pelajaran terlebih dahulu, karena hanya memanfaatkan fungsi logika, dan hari ini kami semua menerima hasilnya.
Aku tak sepenuhnya mengerti arti grafik dan kalimat-kalimat di dalamnya. Karena semuanya menggunakan kata-kata istilah psikologi. Namun yang menarik perhatianku, kata pada kolom hasil akhir yang bertuliskan Grade I, yang kutahu itu berarti peringkat I. Namun sungguh aku tak mengerti maksudnya. Kulihat pada kertas milik Trisna dan Mega juga bertuliskan kata yang sama, Grade I. Dipenuhi rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya pada guru BK arti dari kata itu. Dengan senyum manis, ia menjelaskan padaku, “Andini, ini artinya nilai IQ mu tinggi karena berada pada Grade I. Jadi, sebenarnya kamu anak yang cerdas, hanya saja kau tak menyadarinya.” Aku setengah tak percaya mendengarnya. Apakah itu artinya, aku sebenarnya sama cerdasnya dengan Trisna dan Mega? Namun mengapa nilai Bahasa Inggris dan Fisikaku tak sebagus nilai mereka? Betulkah yang dikatakan guru BK, aku hanya tak menyadari diriku secerdas itu? Entahlah, biarkan waktu yang menjawab.
***
5 tahun kemudian,
Dear Ms. Andini Rahmawati,
Congratulations!
I’m pleased to tell you that you have been selected as a preferred candidate for New Zealand Scholarship.
Aku akan segera berangkat ke University of Auckland, New Zealand. E-mail yang tepat kubaca di hadapanku seakan membawaku terbang ke negeri di atas awan. Akhirnya perjuanganku untuk mengambil program magister di negara paling damai di dunia ini akan segera terwujud. Jadwal keberangkatanku akan tiba seminggu lagi. “Auckland, aku datang. “ lirihku. Satu persatu mimpiku terwujud, dan aku bahagia karena ia tak hanya sekedar mimpi dalam tidurku.
***
Aku, Andini adalah wanita cerdas dan percaya diri. Itulah the magic words yang selalu kubenamkan dalam benakku dan semuanya berawal dari the magic paper yang kuterima dari guru BK ku 5 tahun yang lalu. Ya, betul the magic paper itu benar-benar telah mengubahku. Aku tak lagi si anak SMA yang sangat biasa, yang menjadikan sekolah hanya sebagai tempat menyelesaian rutinitas 3 tahun masa remajaku. Aku sejatinya adalah wanita cerdas yang berani mengukir sejarah dalam hidupnya. Menjadi siapapun yang ia mau. Aku hanya perlu berjuang melawan diriku sendiri. Melawan diri yang terlalu menganggap diri sendiri biasa-biasa saja. Sejatinya setiap manusia dihadirkan di dunia dengan potensi yang luar biasa, dan aku tidak ingin terlambat menyadarinya.
***
Bayan, 02 Juli 2019 .