Sebuah Perayaan Cinta

“Aku akan kembali lagi, Taqiyya.” Lelaki yang tepat berdiri di hadapannya menatap tajam, seakan tak ingin kehilangan bayangan perempuan berkerudung coklat tua itu dalam teduh matanya. Di antara gedung Dwitama dan Gedung Pratama, ia mengucap janji akan segera kembali.

Taqiyya mendekap erat map berwarna biru yang sedari tadi menjadi pelampiasan kekacauan hatinya. Dipeganginya erat-erat agar dirinya tak goyah berdiri di kakinya sendiri. Ia tak boleh terlihat kacau di hadapan lelaki bertubuh jangkung itu. Ia gugup dan irama hatinya sungguh tak karuan. Sesaat kemudian, lelaki itu melangkah pergi meninggalkannya.

Enam jam yang lalu, lelaki itu baru saja mengucap kalimat terindah yang mungkin pernah didengar Taqiyya dalam hidupnya di hadapan ayahnya.“Saya datang dari jarak ribuan kilometer untuk melamar putri Bapak menjadi istri saya dan mohon izinkan saya untuk segera menikahinya.” “Apa kau yakin akan menikahi,Taqiyya. Kau baru saja bertemu putriku hari ini.” Jawab sang ayah meragukan keinginannya. “Sebelum memintanya pada Bapak, saya telah meminta Taqiyya pada Allah telah bertahun-tahun lamanya, dan Taqiyya hadir sebagai jawaban dari doa-doa saya. Maka kini izinkanlah saya menghalalkannya, niat saya sudah mantab.” Tegas lelaki itu kembali.

Taqiyya, mendengar percakapan itu membuatnya diam seribu bahasa. Bahkan saat ayahnya menanyakan pendapatnya, tak satu katapun yang dapat diucapkannya. Rasa malu membuncah dalam hatinya. Malu pada ayahnya, karena ini pertama kalinya seorang laki-laki datang ke rumah untuknya setelah 23 usianya. Taqiyya, yang selalu menutup diri dari pergaulan dengan laki-laki akhirnya hari ini harus mengejutkan ayahnya dengan keputusannya untuk menerima lamaran laki-laki yang baru saja bertemu dengannya hari ini.

***

Taqiyya baru saja menyelesaikan proposal skripsinya saat laki-laki itu menyatakan akan datang meminangnya. Ia sejatinya tak pernah membayangkan akan menikah dengan lelaki asing itu. lelaki yang tanpa sengaja ia kenal melalui media sosial tiga tahun yang lalu. Berawal dari ketidaksengajaannya menambahkan pertemanan dengan nama yang ia kira adalah nama teman SMA nya. Namun ia tak menyangka itu adalah awal dari kisah cintanya.Percakapan keduanya berujung pada saling ketertarikan.

Riez datang dengan segala sisi yang dikagumi Taqiyya. Tutur bahasanya, kedewasaannya dan kesederhanaanya menjadi bagian yang membuat Taqiyya tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.

“Bagaimana kau bisa ingin menikahiku, kita bahkan belum pernah bertemu, melihat fotoku saja kau belum pernah.” Tanya Taqiyya meragukan keputusan lelaki itu.

“Aku memintamu pada Allah bahkan sebelum bertemu denganmu. Kau hadir begitu saja dalam pengharapanku menjadi jawaban atas doaku dan aku tak perlu meragukan pemberian Allah untukku.” Jawab lelaki itu menegaskan keinginannya.

“Jika kau memang benar-benar ingin menikahiku, datanglah temui ayahku.” Tegas Taqiyya pada lelaki itu. Dengan segala keapa-adaan dirinya, Riez mengumpulkan segala keberaniannya untuk menemui Ayah Taqiyya. Ia datang dengan membawa segala kelebihan dan kekurangan dirinya. Ia tak boleh melewatkan kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidupnya, yaitu melamar dan menikahi wanita pilihan hatinya.

“Aku tentu tak boleh menolak lamaran laki-laki yang baik akhlak dan agamanya.“ Ayah Taqiyya menanggapi lamaran Riez terhadap putrinya. “Namun bisakah aku memintamu menunggu Taqiyya untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Setidaknya izinkanlah aku menyelesaikan kewajibanku terhadap pendidikan putriku. Setelah itu aku tak akan meminta apa-apa lagi. Datanglah kembali dan menikahlah dengannya.” Pinta Ayah Taqiyya pada lelaki muda di hadapannya itu.Riez, dengan segala pengharapannya, tak memiliki pilihan lain selain menunggu dan kembali lagi di saat yang tepat.

“Taqiyya, aku pasti kembali,” desah hatinya meninggalkan wanita berwajah sederhana itu.

***

7 tahun kemudian..

“Apakah di kehidupan akhirat nanti kau masih ingin hidup bersamaku? Karena di kehidupan dunia ini aku lebih banyak menerima daripada memberi. Kau memberiku terlalu banyak hal.” Taqiyya menatap suaminya yang sedari tadi menggenggam tangannya. Riez tak bergeming mendengar pertanyaan istrinya. Ia selalu memilih diam saat istrinya menanyakan perasaannya. Apakah begitu penting kata-kata cinta dari segala upaya yang ia lakukan untuk menggenapkan segala cintanya pada istrinya.

“Ambu sayang Abah.” Ucap taqiyya sambil memegang wajah suaminya.Riez tersenyum.

“Ambu mah ngomog doang!” Jawab Riez sekenanya.Riez tertawa melihat tingkah istrinya yang cemberut karena ucapannya.

“Tuh lihat cucian numpuk, kalau sayang abah, nyuci atuh sana.” Riez menggoda istrinya. Mereka sejenak tertawa menikmati kisah di setiap pagi kehidupan mereka. Pagi selalu menghadirkan kebahagiaan. Menikmati kopi secangkir berdua dan meminumnya dari sisi gelas yang sama sambil menikmati siluet pepohonan yang dihiasi warna langit keemasan. Bunga zinnia yang tak pernah bosan bermekaran dan suara burung yang bersahutan seperti sebuah orchestra yang selalu disuguhkan alam untuk merayakan cinta mereka setiap pagi.

Adakah yang paling membahagiakan di bumi ini selain suami istri yang saling memandang dengan penuh keridhoan dan menjadikan cinta mereka selalu layak diperjuangkan dalam segala fluktuasi kehidupan. Cinta yang membuat kening mereka selalu ingin berlama-lama dalam sujud meminta selaksa kebaikan bagi belahan jiwa yang menggenapkan seluruh agama dan kehidupan.

“Ya Allah berikanlah segala kebaikan dunia dan segala kebaikan akhirat untuk suamiku sebagai balasan atas segala cinta dan kasih sayangnya untukku.”

***

Tangerang, 2 Maret 2020.

=====================

Special to the best human being that Allah creates to complete me.

thank you for loving me

thank you for giving me wings to fly to chase all my dreams and make it worth for you

happy anniversary

2 Maret 2013 – 2 Maret 2020

Tinggalkan komentar