Sekolah yang Tak Kurindukan 2

Mentari tetap setia datang menjelang. Tak perduli betapapun aku berjuang untuk tak membuka mataku pagi ini, ia selalu hadir menghangatkan pagi yang membeku. Ah, aku berharap setiap pagi hanya perlu menyaksikan pertunjukan mentari, tanpa harus menyeret tubuh ini untuk berangkat ke sekolah. Entah sejak kapan rasa jenuh ini menghampiri, namun ia terus menjadi-jadi membuatku muak dengan segala hal tentang sekolah. Aku muak setiap pagi harus memakai seragam putih abu, muak dengan hukuman yang sepertinya selalu tertuju padaku setiap masuk gerbang sekolah, muak dengan guru-guru yang sepertinya selalu menjadikanku objek kebenciannya, dan muak dengan semua pelajaran yang entah untuk apa aku mempelajarinya.

Hari ini seperti hampir tak ada jeda, lagi-lagi aku harus bertekuk lutut membiarkan diriku dihukum di depan lobi sekolah karena terlambat, dan seperti biasa Bu Mirna, sang WAKA Kesiswaan selalu tak menerima setiap alasan keterlambatanku. Baginya aku hanya membuat sekolah tampak kacau dengan mempertontonkan aksi keterlambatanku setiap pagi. Alih-alih membuatku jera, ia justru membuatku semakin muak dengan aturan-aturan sekolah. Ah, seandainya ia bersikap lebih lembut dan berusaha memahamiku, aku tak akan semakin menjadi-jadi.

Setelah menjalani ritual hukuman, aku pun melangkah ke ruang kelas. Tempat dimana sehari-hari aku menghabiskan waktu dengan lamunanku sambil mendengah celotehan para guru. Saat mulai bosan, aku akan menjadi sangat aktif merespon setiap perkataan para guru. Siapa sangka mereka akan jengkel dengan ucapan-ucapanku. Namun sungguh, bukan itu maksudku. Aku hanya bosan dan ingin berbicara. Maka jadilah aku sang perusuh kelas, sang pembuat onar, dan lagi-lagi, aku tak perduli.

Jam istirahat atau jam kosong adalah moment paling melegakan. Setidaknya, itulah saat dimana aku bisa mengistirahatkan tubuhku yang mulai kaku karena terpaksa duduk berjam-jam menyaksikan penampilan guru di depan kelas yang sungguh tak menarik bagiku. Kantin adalah tempat tujuan favorit setiap siswa termasuk diriku. aku dan teman-teman seperjuanganku, begitulah aku memanggil mereka, sekawanan sahabat yang menganut aliran yang sama denganku, yaitu aliran sang pembuat onar. Kami sudah seperti sekawanan anak manusia yang mulai terbiasa dengan julukan itu dan lagi-lagi, kami tak perduli. Agenda yang paling menyenangkan bagi kami saat jam kosong tentu saja merokok di belakang kantin sekolah. Meski dilarang namun kami sangat menikmatinya. Setidaknya itulah pembunuh kebosanan selama hari-hari sekolah. Saat bernasip sial, salah satu guru memergoki perbuatan kami dan jadilah hari itu kami selebriti di ruang BK, dan lagi-lagi kami tak perduli. Toh, sebagian gurupun melakukan hal yang sama. Aku tahu sebagian mereka merokok di area sekolah dan tak ada yang berani mem-BK-kan mereka. Ah, terkadang disitu aku merasa, dunia sungguh tak adil.

Jadilah hari ini aku harus pulang membawa surat panggilan untuk orang tua. Aku tahu itu artinya kenakalanku sungguh sudah melampaui batas dan orang tuaku harus dipanggil ke sekolah untuk mengurus kesalahanku. Namun seperti biasa, surat yang kubawa dari sekolah tak pernah sampai ke tangan tuannya. Ayah, sang penjaga keluarga telah tiada dan ibu harus bekerja ke kota untuk menafkahi aku dan adik-adiku. Nenek, satu-satunya orang tua di rumah tak mungkin datang ke sekolah karena usia dan pengetahuannya yang terbatas. Jadilah surat panggilan yang kesekian kalinya ini hanya menjadi penghuni tas sekolahku.

Sepulang sekolah seperti biasa aku membantu nenek mencari rumput untuk pakan ternak. Sepertinya rutinitas inilah yang paling tak bisa kuhindari. Di sekolah bisa saja aku mengelak mengerjakan tugas guru, namun di rumah aku tak pernah menolak kewajibanku yang satu ini. Nenek, adalah satu-satunya orang yang selalu membuat hatiku tersentuh. Bahkan ia berhasil membuatku menjalani segala tugas rumah darinya setiap hari tanpa mengeluh. Nenek adalah sosok satu-satunya yang menggantikan figur ayah dan ibu dalam hidupku, meski dengan segala keterbatasannya, nenek lah orang satu-satunya yang tetap berada di sisiku.

Ah, seandainya ayah dan ibu berada di sisiku, aku mungkin akan menjadi anak yang lebih baik. Demikian selalu lamunanku di sela-sela menyabit rumput. Aku mungkin akan tetap menjadi anak yang baik sama seperti awal-awal masuk SMA dulu, mungkin julukan sang pembuat onar tak kan pernah melekat padaku dan mungkin hari ini aku akan menjadi salah satu siswa kebanggan di sekolah. Ketidakhadiran sosok ayah dan ibu membuatku kehilangan kendali atas diriku. Aku sungguh membutuhkan mereka, membantuku berjuang mencapai harapanku. Ah sudahlah. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Begitulah selalu aku menghibur diriku.

***

Pagi ini langkahku selalu sama. Namun kuupayakan tak datang terlambat. Aku sedang bosan menjadi bulan-bulanan Bu Waka, bukan karena aku jera sejatinya. Aku hanya tak ingin ia menginjak-injak harga diriku lagi. Setidaknya, tidak untuk hari ini.

Langkahku kuperceat memasuki kelas, sekilas aku berpapasan dengan gadis itu. Yaa gadis itu. Gadis yang berhasil menawan seluruh lamunanku. Ia berhasil memutar film kehidupan tentang aku dan dirinya dalam dimensi khayalanku. Oh sungguh indah memikirkan tentang cinta. Ia datang dengan segala hal yang membuatku ingin terus menyaksikan keindahannya. Setidaknya dialah yang berhasil membuatku menjalani hari-hari sekolah lebih berwarna. Membuatku berupaya sebaik mungkin menjadi diriku yang terbaik untuk dirinya.

Namun kemudian aku sadar, pertunjukan tentang dirinya ternyata bukan untukku. Dia, si gadis berwajah lembut itu, telah membiarkan hatinya berlabuh pada cinta yang lain. Aku memaksakan diri sadar dengan semua kenyataan. Ah, seandainya ia tak mematahkan hatiku begitu dalam, aku tak kan seperti ini. Setidaknya ia biarkan saja aku menjadikan dirinya satu-satunya yang bisa kubanggakan dalam hidupku. Menjadi seseorang yang bisa kulabuhkan segela kegersangan jiwaku, menjadi penyejuk hari-hariku yang hampa dengan kasih sayang. Oh, betapa patah hati sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari segala hukuman dan hinaan yang kudapatkan dari seluruh penghuni sekolah. Tak sadarkah ia?

Bel masuk berbunyi membuyarkan lamunanku.

Kupaksakan diriku mengikuti pembelajaran jam demi jamnya. Setidaknya hari ini aku berupaya menjadi diriku yang baik agar tak bertambah tumpukan surat pemanggilan orang dalam tasku.

Bel istirahat berbunyi. Aku tak dapat menyembunyikan senyum sumringah, begitupun teman teman seklas yang lain. Ah, bel istirahat memang suara paling merdu di dunia ini. Namun senyumku seketika lenyap saat aku dipanggil ke ruang BK lagi. Ada apakah gerangan? Bukankah hari ini aku tak melakukan kesalahan apapun? Aku menurut saja membuntuti guru BK yang bertugas memanggilku.

Betapa terkejutnya aku. Saat kulihat ibuku duduk bersama wali kelas beserta waka kesiswaan. Sepertinya pihak sekolah berusaha menghubungi ibuku secara langsung karena surat panggilan yang dikirim padau tak pernah mendapat respon.

Ibu melihatku dengan pandangan nanar dan kecewa. Aku tertunduk dibuatnya. Aku tahu, ibu pasti kaget mendengar semua keluhan tentang diriku yang didengarnya melalui waka kesiwaan. Kasus terlambat, lompat tembok, merokok di dalam kelas, tidur di dalam kelas, melawan guru, sepertinya semua aibku telah dibeberkan sepenuhnya pada ibuku. Oh, aku ingin lari saja. Aku tak kuasa harus melihat ibuku seperti ini. Aku malu membuatnya terlihat tak berdaya.

Maaf. Hanya kata itu yang keluar begitu tulus dari mulut ibuku. Aku tahu betapa ia sangat menyayangiku dan berusaha meminta maaf atas segala kelakuanku selama ini yang sangat merepotkan pihak sekolah. Sesaat kemudian aku dan ibu dipersilahkan keluar ruangan setelah menandatangani surat pernyataan aku di scors selama 1 minggu. Mata ibu terlihat berkaca-kaca saat menandatangani surat itu.

“Ada apa denganmu, Nak?” ibu bertanya dengan nada memelas, agar aku setidaknya berbicara yang sedari tadi membungkam seribu bahasa saat di ruang BK. Lagi-lagi aku tak bergeming. Sepertinya setiap kata yang keluar dari mulutku akan menyakiti hati ibu. Aku memilih diam.

***

“Nak, bangunlah!” ibu membangunkanku dengan lembut. Kucium aroma nasi goreng dari seberang kamarku. Kulihat seragam putih abuku tergantung rapi. Ah, seandainya ibu setiap hari di rumah dan menyiapkan semua kebutuhan sekolahku seperti ini, betapa bahagianya aku.

“Ibu memutuskan berhenti bekerja di kota. Kau suka? Tanya ibuku.

“Ibu sekarang pengangguran dong?” jawabku sekenanya.

“Kamu malu yaa ibu jadi pengangguran?” Ibu balik menggodaku dengan pertanyaannya sembari menyodorkan sarapan untukku. Aku diam. Rasanya air mataku ingin tumpah. Aku terharu ibu mengorbankan karirnya demi diriku. Aku tahu betapa pisisi ibu di karirnya sekarang adalah cita-cita masa mudanya. Aku tahu ia telah mengorbankan hal yang sangat berharga bagi dirinya demi diriku.

Aku berpamitan berangkat ke sekolah. Aku menyalami ibu. Tak satu katapun yang keluar dari mulutku. Bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih aku tak bisa. Ah, betapa tak romantisnya aku pada ibu. Aku menatap wajah ibu lekat-lekat. “Ibu, aku bernjanji akan menjadi anak terbaik untukmu.” Lirihku dalam hati.

                                                                                                            Bayan, 8 Oktober 2019

Tinggalkan komentar