Jiwa Sekokoh Rinjani

Muiz Al Aziz, Anak yang kini duduk di bangku kelas X di SMAN 1 Bayan, Lombok Utara, yang merupakan korban gempa Lombok 29 Juli 2018, harus menjalani hari-hari tanpa kaki kanannya. Akankah ia bisa kembali ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya? Muiz, seperti namanya, adalah anak laki-laki yang kuat dan menyimpan bara perjuangan dalam dirinya.

Pagi menjelang dengan indah di Pelabuhan Carik. Pelabuhan kecil yang tepat bertengger di utara Desa Anyar, Kecamatan Bayan Lombok Utara ini, sejatinya dibangun sebagai dermaga bongkar muat barang yang telah empat tahun beroperasi. Ia tak hanya indah karena lautan luas mempersembahkan pantai yang selalu dirindu karena ketenangannya, namun ia telah menjadikan dirinya rumah kedua yang nyaman bagi para nelayan yang memperjuangkan nafkah.

Muiz, lelaki belia yang tak pernah ingin melewati hari minggunya tanpa aroma mentari pagi, menjadikan dermaga kecil itu sebagai pelabuhan bagi fikiran dan tubuhnya yang penat dengan rutinitas hari-hari sekolah. Melihat para nelayan mengadu kail dengan ikan-ikan yang lincah, adalah bagian yang paling ia sukai. Namun pagi itu, mentari mengawali tragedi yang menyisakan trauma sepanjang hidupnya.

Gempa menyapa bumi Lombok. Gempa sejatinya tak pernah terbesit akan menjadi bencana yang menyapa pulau kecil nan indah itu. Lombok telah begitu damai dengan alam yang bersahabat untuk dijadikan tempat bermukim. Namun hari itu, tepat tanggal 29 Juli 2018, sejarah gempa mengukir dirinya di daratan Lombok. Ia bisa jadi bukan gempa hebat hingga tak banyak media menyajikannya dalam berita karena tak semua wilayah merasakan kekuatannya. Gempa darat bermagnitudo 6,4 SR yang berpusat sangat dekat dengan Gunung Rinjani itu seketika mampu merobohkan tatanan kehidupan penduduk Lombok Utara dan Lombok Timur. Ia merobohkan ribuan rumah yang konstruksinya memang tidak tahan gempa, pohon-pohon dan tiang listrik bertumbangan, tanah terbelah, tebing-tebing Rinjani longsor, ratusan warga menderita luka akibat terkena reruntuhan bangunan, bahkan 20 orang harus kehilangan nyawa, yang tak kalah memilukan, seorang anak laki-laki harus kehilangan kaki kanannya.

Gempa datang menggetarkan seluruh sendi-sendi dermaga yang lokasinya hanya berjarak 47 km dari Rinjani. Orang-orang sejenak digelayuti pertanyaan apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Suara gemuruh diiringi getaran hebat membuat seisi dermaga ketakutan luar biasa. Insting menggerakkan mereka untuk segera berlari menghindari bibir pantai. Muiz berlari sekuat tenaga menyelamatkan diri bersama gerombolan orang-orang yang berteriak panik. Namun Naas, kakinya terjembab di antara kanal beton dermaga yang tiba-tiba menganga karena guncangan gempa. Ia merasakan kakinya begitu kelu teramat sangat karena terhimpit baja pada bibir beton yang begitu kuat. Ia tak kuasa menariknya keluar, karena gempa susulan menyebabkan kanal beton menyempit kembali. Ia berteriak meminta tolong, namun pagi itu, setiap orang tak saling memerdulikan satu sama lain, menyelamatkan nyawa masing-masing adalah pilihan satu-satunya. “Dunia terasa seperti kiamat. Sesaat tak ada yang memerdulikan satu sama lain,” tutur salah seorang penduduk.

Muiz putus asa. Gempa susulan yang datang bertubi-tubi membuatnya ketakutan luar biasa. Ia berharap dapat menarik kembali kakinya namun ia tetap tak berdaya. Tak satupun pertolongan datang yang membuatnya terkulai lemah. Ia merebahkan tubuh mungilnya di atas lantai dermaga dengan kaki kanannya yang masih tercengkram kuat dalam himpitan beton. Ia pasrah dan akhirnya tertidur. “Saya menunggu pertolongan sampai akhirnya tertidur,” cerita Muiz.

Hampir setengah jam lamanya, seorang tukang ojeg menghampirinya. Dengan segala upaya si tukang ojeg berusaha membantu Muiz mengeluarkan kakinya dari jepitan beton. Namun gagal, cengkraman beton terlalu kuat. Menarik paksa kaki Muiz hanya akan semakin melukai kakinya yang telah remuk. Berbondong-bondong orang-orang kemudian datang membantu. Segala upaya mereka tak jua mampu mengeluarkan kaki Muiz. Sebagian mencoba mengungkit kanal beton menggunakan linggis dan alat ungkit lainnya. Namun tak juga berhasil. Konstruksi dermaga terlalu kuat untuk bisa dikalahkan dengan alat seadanya. Saat orang-orang mulai kehilangan upaya untuk membantu Muiz, gempa susulan berhasil membuat kanal beton terbuka kembali dan kaki Muiz berhasil dikeluarkan. Muiz segera dilarikan ke puskesmas Bayan karena kondisi kakinya yang terluka parah. Kaki kanannya kehilangan bentuk dengan luka menganga. Lukanya mengalami pendarahan hebat, Muiz kehilangan banyak darah.

Perjalanan Medis Muiz

Dengan kondisi medis yang dialami Muiz, tidak memungkinkan bagi dirinya untuk dirawat di puskesmas Bayan, akhirnya Muiz dilarikan ke RSUP NTB setelah sebelumnya hanya transit di RSUD Lombok Utara. Saat masa perawatan di RSUP, dokter memutuskan mengamputasi kaki kanan Muiz dan harus menjalani setidaknya 6 kali operasi untuk memperbaiki kondisi kakinya agar tidak terjadi infeksi dan kerusakan tak semakin menjalar. Dokter menyampaikan, Muiz sempat mengalami kondisi kritis yang mengancam jiwanya karena ia terlalu banyak kehilangan darah. Muiz sempat dirawat di ruang ICU karena kondisinya yang melemah.

Hampir dua bulan lamanya Muiz menjalani perawatan di RSUP NTB. Selama masa perawatan kedua orang tua dan saudaranya setia menemani. Teman-temannya silih berganti berdatangan mengunjunginya.

Bantuan dari berbagai pihak pun berdatangan. Karena kondisi ekonomi orang tua Muiz yang tidak memungkinkan menanggung semua biaya operasi dan masa perawatan yang lumayan besar, banyak pihak sangat berempati dengan kondisi mereka. Ayah Muiz hanya seorang marbot di masjid kampung dan ibunya hanya berjualan lontong bakulan di pasar. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan mereka untuk menyelesaikan perawatan medis Muiz. Namun kedua orang tuanya begitu gigih memperjuangkan kesehatan Muiz. Terbukti dengan berbagai bantuan yang datang silih berganti meringankan beban mereka.

Remaja Dusun Dasan Lendang, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, dimana Muiz tinggal, turut menggalang dana untuk membantu biaya penyembuhan Muiz.

PMI Lombok Utara menghadiahi kursi roda untuk Muiz. Dengan adanya kursi roda, dapat membantu Muiz paska penyembuhan. Ia pun diupayakan untuk mendapat kaki palsu dan tongkat untuk membantunya mandiri dan kembali sekolah lagi.

Setelah selesai menjalani perawatan di RSUP NTB, Muiz dibawa keluarganya ke Bali untuk menjalani terapi pemasangan kaki palsu setelah akhrinya kembali pulang ke kampung halamannya.

Kembali ke Sekolah

Muiz telah masuk sekolah. Setidaknya itu salah satu berita gembira bagi seluruh warga sekolah. Siapa sangka, Muiz yang telah melewati berbagai perjuangan medis, akhirnya bisa kembali belajar bersama teman-temannya. Bukan hal mudah tentu bagi dirinya harus kembali ke sekolah dengan satu kaki. Apalagi bulan-bulan awal paskagempa, SMAN 1 Bayan tidak sepenuhnya mendukung proses belajar mengajar. Kondisi ruang kelas yang sebagian besar rusak berat memaksa semua siswa harus belajar di tenda-tenda darurat. Siswa terpaksa berpindah dari satu tenda ke tenda yang lain, layaknya moving class.

Kondisi ini tentu sangat menyulitkan Muiz untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Langkahnya tak selincah dulu, dengan mengandalkan kedua tongkat di tangannya, ia melatih langkahnya.

Guru yang paling dekat dengannya, wali kelasnya berusaha melihat Muiz seperti tak ada yang terjadi pada dirinya. Ia berusaha menjadikan Muiz tak menganggap dirinya berbeda dari teman-temannya. “Muiz tak boleh menanggung beban mental, setelah perjuangan fisiknya,” tutur sang guru.

Proses administrasi Muiz di sekolah berusaha dipermudah bagi dirinya untuk membantunya lebih mudah menjalani hari-hari sekolah. Ulangan harian, penugasan dan materi pembelajaran yang sempat dilewati Muiz diupayakan tetap ia dapatkan selama masa perawatan di rumah. Wali kelas, guru BK dan teman-teman dekat Muiz sangat membantunya dalam hal ini.

Tetaplah kuat, Nak!

Saat melakukan wawancara dengan keluarganya terkait kondisi psikologis Muiz paskagempa, keluarganya mengatakan Muiz sangat tabah. Bahkan saat kakinya terjepit 10 bulan yang lalu, tak setetespun air matanya keluar. Ia tak mengeluh sakit. Ia hanya merasakan ngilu pada kakinya. “Saat saya dan ibu tak berhenti menangisi kondisi dirinya, Muiz justru balik menenangkan kami,” cerita saudara perempuan Muiz.

Bahkan orang-orang yang berusaha mengeluarkan kaki Muiz dari jepitan beton takjub dengan kekuatan fisik Muiz. Dengan luka kaki yang begitu hebat, tak sedikitpun ia meringis kesakitan. Entah apa yang menempa jiwanya hingga begitu kuat.

Bagi siapapun yang melihat Muiz, pasti akan terbesit rasa kasihan yang mendalam pada dirinya. Orang-orang akan menghawatirkan masa depannya. Orang dengan kaki normal saja belum tentu memiliki masa depan yang cerah, bagaimana dengan Muiz yang harus menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan satu kaki. Adakah yang bisa menjamin masa depan dirinya? Logika manusia tak akan pernah sama dengan rencana Allah. Muiz, sang lelaki belia yang hitam manis itu, jauh lebih kuat dari segala persangkaan manusia. Ia yang kini hampir menyelesaikan 1 tahun pertama sekolahnya di bangku SMA, tak pernah sedikitpun terbesit niatan untuk menyerah. Ia harus tetap sekolah.

Gempa Lombok menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat Lombok, trauma karena kehilangan tempat tinggal, trauma karena kehilangan nyawa orang-orang yang dicinta, bahkan Muiz harus kehilangan kaki kanannya untuk selama-lamanya.

Saat orang-orang memilih pasrah dengan keadaan, memilih mengkambinghitamkan bencana gempa ini sebagai penyebab kegagalan hidup mereka, namun Muiz memilih untuk menjadi lebih kuat. Tetaplah kuat, Nak. Tetaplah kuat sekokoh Rinjani. Meski ratusan gempa bumi menghantam dan melongsorkan sebagian tubuhnya, ia tetap kokoh menjulang tinggi.

Bayan, 25 Mei 2019

Tinggalkan komentar